"Kecerdasan Bukan dari Sekolah?": Guru Jadi Bingung Harus Bersikap Apa
Sebagai guru yang mengajarkan kepada siswa pentingnya sekolah, pernyataan Presiden Prabowo Subianto beberapa hari lalu, saat peluncuran buku Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, membuat saya berfikir cukup jauh, jangan-jangan memang benar dugaan saya selama ini, tentang keberpihakan untsur di luar sekolah tentang Pendidikan itu memang sangat jauh. Presiden Prabowo menegaskan kecerdasan seseorang tidak ditentukan sekolah atau kampus, dan menurutnya karakter, pengalaman hidup, hingga tempaan kesulitan justru menjadi faktor penting dalam membentuk kualitas seseorang. Ia bahkan menyebut kampus tempat Bahlil menempuh pendidikan sudah tidak terkenal, bahkan sulit ditemukan bila dicari di Google, sebagai bukti pernyataannya.
Persoalannya bukan sekadar soal
diksi. Persoalannya adalah: pernyataan ini datang di tengah situasi di mana
guru sudah cukup lama mempertanyakan sejauh mana pendidikan benar-benar menjadi
prioritas negara. Ketika presiden sendiri menyampaikan kesan bahwa sekolah
"tidak terlalu penting" untuk membentuk kecerdasan, sementara di
lapangan guru berjuang meyakinkan siswa dan orang tua akan pentingnya
pendidikan formal, muncul semacam disonansi yang membingungkan.
Ambiguitas yang Dirasakan Guru
Bayangkan posisi seorang guru di
kelas. Setiap hari kami menanamkan nilai bahwa belajar di sekolah itu penting,
bahwa proses akademik membentuk cara berpikir dan masa depan anak. Lalu
tiba-tiba pemimpin tertinggi negara menyampaikan pesan yang bisa ditafsirkan
sebaliknya. Bagi siswa yang mendengar potongan berita ini di media sosial,
tanpa konteks penuh, pesan yang tertangkap bisa jadi sederhana: "sekolah
tidak menjamin apa-apa." Ini jelas kontraproduktif bagi upaya guru
membangun motivasi belajar.
Ambiguitas ini semakin terasa karena
tidak diimbangi kejelasan sikap negara terhadap pendidikan itu sendiri. Di satu
sisi presiden mengatakan kecerdasan bukan dari sekolah, di sisi lain pemerintah
terus mengklaim pendidikan adalah prioritas. Guru pada akhirnya dibiarkan
menerka-nerka pesan mana yang sebenarnya ingin disampaikan negara kepada
generasi muda.
Kontras dengan Realitas Kebijakan
Anggaran
Kegelisahan ini semakin beralasan
jika melihat polemik kebijakan pendidikan belakangan ini. Sejumlah kalangan
sipil sempat mempersoalkan penggunaan anggaran pendidikan untuk membiayai
program Makan Bergizi Gratis (MBG), dengan menilai pengalihan anggaran tersebut
berdampak pada turunnya kualitas pendidikan serta kesejahteraan guru. Mahkamah
Konstitusi memang menegaskan status anggaran pendidikan sebagai belanja wajib
dan melarang penggunaannya untuk MBG, tetapi larangan tersebut baru berlaku
efektif dalam APBN 2028, sehingga anggaran pendidikan tahun 2026 dan 2027 masih
berisiko "dibajak" untuk membiayai program yang sebenarnya tidak
berkaitan langsung dengan pendidikan.
Wacana efisiensi anggaran negara
pada awal 2026 pun sempat memicu kekhawatiran serupa, ketika muncul kabar
rencana pembelajaran daring sebagai bagian dari strategi penghematan, yang
dikhawatirkan mengulang keterbatasan proses belajar seperti masa pandemi. Meski
pihak Istana kemudian membantah dan menegaskan program pendidikan tidak
dikurangi, bahkan diklaim ditambah, keraguan publik — khususnya guru — terhadap
komitmen nyata pemerintah terhadap sektor ini tidak sepenuhnya hilang.
Dalam konteks inilah pernyataan
"kecerdasan bukan dari sekolah" terasa berat sebelah. Ia muncul
persis di saat guru tengah mempertanyakan keberpihakan anggaran, kesejahteraan,
dan arah kebijakan pendidikan. Alih-alih menenangkan, pernyataan ini justru
menambah kebingungan: apakah pendidikan formal benar-benar dianggap penting
oleh negara, atau hanya jadi retorika di panggung seremonial?
Guru Butuh Kejelasan, Bukan
Ambiguitas
Saya percaya niat awal Presiden
mungkin baik — mengapresiasi kerja keras dan karakter di luar prestasi akademik
semata. Tapi pemimpin negara perlu menyadari bahwa setiap kata yang mereka
ucapkan punya bobot berbeda dibanding orang biasa. Ketika kalimat seperti ini
disandingkan dengan realitas kebijakan yang dianggap belum sepenuhnya berpihak
pada pendidikan, guru di lapangan yang menanggung akibatnya — harus menjelaskan
ulang kepada siswa mengapa sekolah tetap penting, sembari menahan kegelisahan
soal masa depan profesi mereka sendiri.
![]() |
| sekolah tempat belajar |
Yang kami butuhkan bukan pernyataan
yang bisa ditafsirkan ganda, melainkan sikap dan kebijakan yang konsisten: bahwa
pendidikan sungguh-sungguh menjadi prioritas, bukan hanya dalam kata, tapi juga
dalam anggaran dan perlindungan terhadap para pengajarnya.

Posting Komentar untuk ""Kecerdasan Bukan dari Sekolah?": Guru Jadi Bingung Harus Bersikap Apa"
Posting Komentar